Rabu, 05 Februari 2014

Pendidikan Inklusi

      Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang didasari semangat terbuka untuk merangkul semua kalangan dalam pendidikan. Pendidikan Inklusi merupakan Implementasi pendidikan yang berwawasan multikural yang dapat membantu peserta didik mengerti, menerima, serta menhargai orang lain yang berbeda suku, budaya, nilai, kepribadian, dan keberfungsian fisik maupun psikologis.
 
      Adapun filosofi yang mendasari pendidkan inklusi adalah keyakinan bahwa setiap anak, baik karena gangguanperkembangan fisik/mental maupun cerdas/bakat istimewa berhak untuk memperoleh pendidikan seperti layanya anak-anak “normal” lainnya dalam lingkungan yang sama (Edicaion for All ). Secara lebih luas, ini bias diatikan bahwa anak-anak yang “normal” maupun yang dinilai memiliki kebutuhan khusus sudah selayaknya dididik bersama-sama dalam sebuah keberangaman yang ada di dalamnya, sekolah inklusi memainkan peran sebagai. Di sini, mereka tidak semata mengejar kemampuan akademik, tetapi lebih dari itu, mereka belajar tentang kehidupan itu sendiri.


 
LANDASAN YURIDIS :

1. UUD 1945 pasan 31 yang dijabarkan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 tentang pemberian warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkelainan;
2, UU No. 29 Tahun 2003, Juga dijelaskan pada UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat;
3. PP No. 72 Tahun 1997 tentang PLB;
4. SE Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 380/C.C6/MN/2003 tanggal 20 Januari 2003 tentang Rintisan Pelaksanaan Pendidikan terpadu.

PENGERTIAN PENDIDIKAN INKLUSIF
 
 1. Pendidikan Inklusif adalah system layangan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusu belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon – Shevin dalam 0 Neil 1994 ).

  2. Sekolah penyelenggara Pendidikan khusus inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan
 kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukugan yang dapat diberikan oleh para guru,agar anak-anak berhasil (Stainback,1980 ).

ALTERNATIF PENYELENGGARAAN :

      Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif terbagi dalam dua jenis :
1. Sekolah Biasa/sekolah umum yang mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus,
2. Sekolah Luar Biasa/Sekolah Khusus yang mengakomodasi anak normal.
      Adapun alternative Layanan Pendidikan Inklusif biar dilakukan antara lain dengan :
1. Kelas Biasa Penuh
2. Kelas Biasa dengan Tambahan Bimbingan di Dalam
3. Kelas Biasa dengan Tambahan Bimbingan di Luar Kelas.
4. Kelas Khusus dengan Kesempatan Bergabung di Kelas Biasa,
5. Kelas Khusus Penuh
6. Sekolah Khusus, dan
7. Sekolah Khusus berasrama


TAHAPAN PENERAPAN PENDIDIKAN INKLUSIF
  
1. Sebelum menerapkan inklusi ,sebaiknya sekolah sudah
    penerapan terlebih dahulu prisip-prisip MBS dengan tiga pilar utama: menagemen             sekolah yg tranparan, akuntable dan demokarif; PAKEM dan optimalisasi peran serta       masyarakat.
2. Kepala sekolah,guru,komite, dan orangtua mendapatkan pemahaman apa, bagaimana,     mengapa konsep inklusi perlu di terapkan.
3. Kepala sekolah dan guru (yang nantinya akan menjadi GPK=GURU pembibing Khusus)     harus mendapatkan pelatihan bagaimana menjalankan sekolah inklusi.
4. GPK mendapatkan pelatihan teknis memfasilitasi anak ABK.
5. Asesmen di sekolah dilakukan untuk mengatahui anak ABK.
6. Sekolah melakukan motivasi dan penjaringan di masyarakat agar anak ABK yang             belum masik sekolah mendapatkan pendidikan secara seimbang dengan                             memasukannnya ke sekolah inklusi.
7. Pengadaan aksesiblilitas ( sarana dan prasarana bagi ABK)sesuai kemampuan                 sekolah.
8. Menyelenggarakan pembelajaraan inklusi.
9. Mengadakan Bimbingsn khusus atas kesepahaman dan kesepatandengan orangtua           ABK.

KENAPA PENDIDIKAN INKLUSI HARUS DIPROMOSIKAN DAN DITETAPKAN:
 
1. Semua anak mempunyai hak yang sama untuk memperolehpendidikan yang bernutu         dan tidak didiskriminasikan
2.semua anak mempunyai kemampuan untuk mengituki pelajaran tanpa melihat kelainan    dan kecepatan
3.perbedaan merupakan penguat dalam meningkatkan mutu pembelajaran bagi semua        anak
4.sekolah dan guru mempunyai kemampuan untuk belajar merepon dari kebutuhan              pembelajaran yg berbeda.

• SISI POSITIF PENDIDIKAN INKLUSI :

1.membangun kesadaran dan consensus pentingnya pedidikan influsi sekaligus                    menghilangkan sikap dan nilai yg diskriminatif
2.melimbatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi              pendidikan local,memgumpulkan infomasi
3.Semua anak pada setiap sistrit dan mengidintifikasialas an mengapa mereka tdk              sekolah
4.mengindenfikasi hambatan berkaitan dengan kelainan fisik,social,dan masalah lainnya    terhadap akses dan pembelajaran
5.melibatkan masyarakat dalam melakukan perecanaan dan monitoring mutu pendidikan    bagi semua anak

HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SEKOLAH
 PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF

1.sekolah harus menyediakan kondisi kelas yg hangat,ramah menerima                                keanekeragaman menghargai perbedaan.
2.Sekolah harus siap mengelola kelas yg heteogen dengan menerapan kurikulum dan          pembelajaran yg bersifat individual 
3.guru harus menerapkan pembelajaran yg interatif
4.guru dituntut melakukan kolaborasi dengan profisi atau sumberdaya lain dalam                perecanaan,pelaksanaan dan evaluasi
5.guru dituntut melimbatkan orangtua secara bermakna dalam proses pendidikan

Sumber : http://www.slbk-batam.org/index.php?pilih=hal&id=78KESIAPAN

Pendidikan Moral

      Satu pertanyaan yang masih ada dalam setiap anganku. Mengapa banyak sekali masyarakat Indonesia yang bertingkah laku dan berkelakuan yang tidak sepatutnya dilakukan??? Padahal banyak para pelaku itu mempunyai pendidikan yang tinggi. Kalau dilihat dari faktor pendidikan, seharusnya seseorang yang mempunyai pendidikan tidak akan bertindak yang bukan-bukan dan tidak senonoh dan bisa menjadi contoh bagi orang lain disekitarnya yang nota bene kurang atau bisa dibilang berpendidikan kurang. Tapi mengapa kelakuan atau akhlak mereka tidak lebih atau bahkan jauh berada dibawah dari orang yang tidak berpendidikan??? Itu bisa terjadi karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Mungkin?

      Pendidikan di Indonesia pada saat ini cenderung lebih mementingkan aspek akademis dari pada aspek moral. Hal ini bisa kita lihat di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, seseorang murid SMK yang nakal atau tidak bermoral lah bisa dikatakandapat lulus dari SMU dan meneruskan keperguruan tinggi hanya karena nilainya mencukupi standar kelulusan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

      Coba kita bayang kan apa yang akan terjadi apabila Negara Indonesia ini dipimpin oleh orang yang hanya mempunyai nilai akademis yang tinggi tapi tidak bermoral. apa yang akan terjadi dengan negara ini??

      Pendidikan Indonesia menganut atau lebih condong pada sistem pendidikan liberal yang mengesampingkan pendidikan moral dan hanya mementingkan pendidikan akademis. Kapan Indonesia bisa maju kalau pendidikan moral di semua sekolah ditiadakan?? apakah Indonesia bisa maju kalau hanya mengandalkan pada kepintaran akademis?

      Pendidikan moral sangatlah  penting bagi individu,karena dengan pendidikan moral diharapkan perkembangan moral diharapkan mampuberjalan dengan serasi sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakatdemi harkat danmartabat manusia itu sendiri. Di Indonesia khususnya, pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan.  Di Sekolah Dasar perkembangan pendidikan moral selain didukung dari perang orang tua,juga dari guru-guru yang mengajarkan nilai-nilai luhur untuk bekal kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan Moral Pancasila, diajarkan sejak dari pendidikan dasar memiliki tujuan yang antara lain:
~membentuk anak negeri sebagai individu yang beragama
~ memiliki rasa kemanusiaan
~memiliki tenggang rasa demi persatuan
~ menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan
~berkeadilan social

                                                                                           Sumber : http://it3a.wordpress.com/pendidikan-moral/

Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Alasan pemerintah mengagas pendidikan informal adalah:
      Pendidikan dimulai dari keluarga
      Informal diundangkan juga karena untuk mencapai tujuan pendidikan nasonal dimulai dari keluarga
      Homeschooling: pendidikan formal tapi dilaksanakan secara informal.
      Anak harus dididik dari lahir

Pendidikan formal
Pendidikan non-formal
Pendidikan informal
- Tempat pembelajaran di gedung sekolah.
- Ada persyaratan khusus untuk menjadi peserta didik.
- Kurikulumnya jelas.
- Materi pembelajaran bersifat akademis.
- Proses pendidikannya memakan waktu yang lama
- Ada ujian formal
- Penyelenggara pendidikan adalah pemerintah atau swasta.
- Tenaga pengajar memiliki klasifikasi tertentu.
- Diselenggarakan dengan administrasi yang seragam
- Tempat pembelajarannya bisa di luar gedung
- Kadang tidak ada persyaratan khusus.
- Umumnya tidak memiliki jenjang yang jelas.
- Adanya program tertentu yang khusus hendak ditangani.
- Bersifat praktis dan khusus.
- Pendidikannya berlangsung singkat
- Terkadang ada ujian
- Dapat dilakukan oleh pemerintah atau swasta
- Tempat pembelajaran bisa di mana saja.
- Tidak ada persyaratan
- Tidak berjenjang
- Tidak ada program yang direncanakan secara formal
- Tidak ada materi tertentu yang harus tersaji secara formal.
- Tidak ada ujian.
- Tidak ada lembaga sebagai penyelenggara.
 
 Sumber : http://radityapenton.blogspot.com/2012/11/pendidikan-formal-informal-dan-nonformal.html

Pendidikan Nonformal

      Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Sasaran Pendidikan Nonformal

      Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Fungsi Pendidikan Nonformal

      Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Jenis-jenis Pendidikan Nonformal

      Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan  dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

                                                                   Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_nonformal

Pendidikan Karakter

     Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek,penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

     Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
 Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli
Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
    Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
      Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
     Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
   Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.

                Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini

nilai-nilai pendidikan karakter

    Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.

        Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

                                            Sumber : http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/

Ekonomi Mikro

Pengertian

      Ekonomi mikro adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut memengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga, dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya. Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan dalam skala makro, dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama. 

Permasalahan

      Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang sering terjadi pada ekonomi mikro :
a. Permasalahan harga dasar dan harga puncak (tertinggi). Penetapan ini untuk melindungi produsen dan konsumen
b. Kenaikan harga BBM yang mengakibatkan penurunan penghasilan sopir angkutan umum dan peningkatan harga beras
c. Praktik monopoli usaha
d. Distribusi barang dan jasa yang tidak efisien. Semakin panjang jalur birokrasi, semakin mahal harga barang/ jasa yang dimaksud
      Demikianlah sedikit penjelasan tentang ekonomi mikro dan beberapa permasalahannya. Semoga bermanfaat.
                 Sumber : http://zahiraccounting.com/id/blog/ekonomi-mikro-dan-permasalahannya/

Ekonomi Makro

Pengertian

      Ekonomi makro adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makro-ekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak masyakarakat, perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan. 

Permasalahan

      Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang sering terjadi pada ekonomi makro
a. Lambannya pertumbuhan ekonomi.
b. Tingginya pengangguran dan kemiskinan.
c. Inflasi dan defisit APBN.
d. Tingginya utang luar negeri
      Demikianlah sedikit penjelasan tentang ekonomi makro dan beberapa permasalahannya. Semoga bermanfaat.
              Sumber : http://zahiraccounting.com/id/blog/pengertian-ekonomi-makro-dan-permasalahannya/